jump to navigation

Koq Gitu Sih 2 Januari 2009

Posted by antokoe™ in renungan, sosial.
Tags: ,
trackback

Sebelumnya mohon maaf, apa yang mau ditulis di blog ini semata-mata hanya untuk kepentingan bersama. Bukan maksud mau ngomongin orang, tapi mungkin ada yang bisa diambil, apa saja.

Tinggal dilingkungan komplek kontrakan indah (maksudnya deretan kontrakan atau orang bilang, rumah petak) punya dinamika yang khas. Kontrakan rata-rata terdiri ruang tamu, 1 kamar dan dapur. Itu yang mungkin yang membedakan dengan kos-kosan. Listrik bayar sendiri dan kadang-kadang air patungan sama tetangga kontrakan. Aku tinggal dideretan kontrakan yang terdiri dari 5 pintu, kebetulan aku tinggal paling pinggir nyaris berbatasan dengan gang masuk (bayangkan betapa berisiknya kalau ada mobil atau motor lewat, bahkan orang lewat aja kedengaran langkahnya). Dan di ujung / pinggir yang lainnya ditinggali oleh kakak iparku. Dan kakak iparku ini yang akan menjadi cerita.

Kontrakan sebelah kakak ipar kebetulan ditinggali oleh kakak iparnya kakak iparku (bingung kan, atau kakaknya istrinya kakak iparku.) Kakak iparku ini bermasalah dengan iparnya, sampai terjadi keributan besar (itu kata istriku, kebetulan waktu ribut lagi gak dirumah) dan diakhiri dengan “nihilnya tegur sapa”.  Si ipar ini akhirnya memilih pindah kontrakan lain yang jaraknya tidak terlalu jauh. Nah kebetulan iparnya kakak (iparku) lagi renovasi rumahnya (aka kontrakan, kebetulan sudah dibeli). Karena kebetulan bersebelahan, pas bikin teras tanpa basa-basi ditemboklah teras itu dan memakan setengah dari jendela rumah iparku, alhasil jendelanya mati tidak dibuka apalagi ditutup. Itu yang pertama, walau si ipar kakak (iparku) ini renovasi rumahnya tapi dia lebih memilih pindah dan ngontrak ditempat lain dan setelah renovasi selesaipun si ipar ini tetap ngontrak. Rumah hasil renovasi akhirnya mau dijual, tapi karena tidak laku-laku, akhir dikontrakin sampai sekarang. Masih ada lagi buntut dari keributan ini semua barang yang telah diberikan selama bertahun-tahun berselang ke keluarga kakak iparku diambil lagi semua oleh si ipar tadi dan memilih tidak bertegur sapa.

Putuslah tali silaturahmi. Kata bang haji “Terlalu..!”. Kenapa orang bisa seperti itu?. Apa yang ada dibenaknya saat itu?. Terlalu pendekkah berpikir atau tidak bisa mikir yang lain ?. Bagiku sifat seperti itu hanya ditemui di sinetron-sinetron kita atau sekali-kali muncul reality show. Memutus tali silaturahmi itu dosa besar, itu kalau tidak salah salah satu isi ceramah di televisi bakda subuh. Menghadapi orang dengan sifat seperti itu sangat sulit. Semoga kelak bisa tersambung lagi tali silaturahminya.

Komentar»

1. mrpall - 2 Januari 2009

walahhh ko ada ya yg sampe begitunya….salam knal

2. han2cute - 3 Januari 2009

eh eh kok gt si??? loh kok putus?????

3. omiyan - 3 Januari 2009

NAMNYA JUGA KOMPLEK PENUH DENGAN MASALAH YANG KOMPLEK PULA DAN ITU PERNAH TERJADI MA SAYA JUGA…YANG PENTING TINGGAL SABARNYA AJA

4. gajah_pesing - 3 Januari 2009

Terlalu…

5. sarahtidaksendiri - 3 Januari 2009

wiw, pasti rame tuch..hehe.,..dan mungkin jd g bs bo2 siang *penggemar bo2 siang*
sukses y, n nikmatin aja….hehe

6. boyin - 3 Januari 2009

sabar itu kuncinya mas..jika tidak tahan..tinggalkan..

7. namakuananda - 3 Januari 2009

kakak iparnya kakak iparku, aku tau maksunya, itu lho kakaknya istrinya kakak iparku…. ehmmmm btw, kakak iparnya kakak iparku masih sering joint kompi/ngenet bareng gag :lol:
ajakin ol lagi donk…
ooo…. ini to rumah petak itu…
oala yo… yo… bisa aja bikin cerita… gag pake bersambung kan mas.

8. galang - 4 Januari 2009

yang berlalu biarlah berlalu nehh

9. tukang Nggunem - 4 Januari 2009

OOT ya, Kemaren pas liat2 perumahan ma calon istri juga dibilangin kek gitu, katanya orang hidup diperumahan harus bermental baja…cuek aja, gak usah terlalu mikiran omongan tetangga…karena pasti kita bakal diomongin ma mereka, maklumlah ibu2 rumpi kan banyak…

10. riez1929 - 4 Januari 2009

hmm…sebenernya masalah yang timbul ga terlalu rumit akan tetapi dampak yang ditimbulkan sangat besar apalagi sampai putus tali silaturahmi sangatlah dosa (so bijak dikit) dan sangat dibenci oleh Tuhan YME (mirip oestadz deh) tapi alangkah baiknya jikalau salah satu dari mereka mau mengakui/mengalah & menjalin kembali tali silaturahminya lagi (bukan tali kolor uppzzz..)
ya udah bukan rahasia umum lagi klw kontrakan (rumah sewa) itu paling sering terjadi keributan seperti itu so jangan terlalu banyak jual suara alias ngrumpi biar ga jadi boomerang buat kita sendiri.
btw numpang nyoret ya Om…hehehe salam buat keluarga

11. bujanglahat - 5 Januari 2009

Piye kabare mas anto..??

Semoga jalinan silaturahim kita terus terjalin ya mas,,, nggak kayak curhatnya mas anto di atas…. :)

12. Heru - 5 Januari 2009

bagi sebagian orang, memaafkan merupakan hal yang tidak mudah, tapi seiring berjalannya waktu biasanya dedam pun akan memudar

13. hyorinmaru - 6 Januari 2009

Wah, berat nih… :shock: