Mas Anto BLOG

catatan langkah pikiran™

Aku Menemukan Kecurangan UN SMP !

with 17 comments


Dua hari sudah aku kembali jadi Tim Pemantau Independen (TPI) Ujian Nasional (UN) SMP. Untuk tahun ini aku mendapatkan pengalaman yang sebenarnya klise untuk urusan ujian-ujian. Kecurangan, ya… kecurangan. Kebetulan aku memantau SMP swasta yang bukan termasuk sekolah ‘unggulan’. Modusnya klasik dan kasar.

Ujian dimulai, panitia sekolah mencari sisa soal (cadangan) yang ada dan dibawa ke ruang khusus selalu tertutup (sebenernya karena ber-AC, pas…kan) untuk dikerjakan oleh guru bidang studi yang bersangkutan. Aku ‘digiring’ oleh panitia lain untuk bergabung dengan kepala sekolah, polisi, reserse di ruang kepala sekolah, yang tentunya jauh dari ruang ujian dan mulailah ngobrol ngalor-ngidul. Aku sebenarnya sudah punya feeling dengan hal ini. Selang 30 menit panitia lain sudah mulai beroperasi menyebarkan sebagian jawaban ke kelas, tentunya dengan modus mengedarkan absen pengawas kelas dan juga lewat penjaga sekolah yang nongkrong dekat toilet. Seperti ada komando, mulailah peserta ujian satu persatu bergantian ke toilet tentunya dengan alasan buang kecil dan disitulah distribusi jawaban. Sesampai dikelas peserta ujian mulai menyebarkan jawaban ke teman-temannya, tentunya pengawas ruangan sudah di-klik oleh panitia sekolah untuk tidak terlalu memperhatikan perilaku peserta ujian, dan mulailah muncul maling-maling karbitan korban proyek UN.

Pihak sekolah (baca:swasta) tentunya hal ini menjadi sebuah langkah terakhir dan beresiko demi anak didiknya lulus dan menyelamatkan muka sekolah didepan orang tua siswa yang secara tidak langsung berpengaruh pada kredibilitas sekolah dimata masyarakat. Ironis memang.

Jujur sebagai pribadi, aku merasa harus berdiri pada sisi yang berbeda. Satu sisi sebagai orang yang tidak setuju dengan UN, disisi lain aku adalah pemantau. Berat. Tapi mudah-mudahan keputusan yang aku ambil yang terbaik. Pasti ada yang tanya, kenapa mau jadi pemantau, kalau tidak setuju UN ?.

UN sebuah hantu tidak bisa ditolak kehadiran dalam sistem pendidikan kita sekarang ini. UN sebuah teror yang dirasakan siswa, sekolah dan tentunya orang tua. Pelaksanaan UN yang nanti akan diklaim oleh pemerintah bahwa UN tahun ini tingkat kelulusannya 99%, wuiih… Sebuah angka SEMU.

Baca juga posting UN sebelumnya disini.

Written by antokoe™

6 Mei 2008 pada 22:36

Ditulis dalam pendidikan

Tagged with , ,

17 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. yah…. aku diceritakan adikku yang mengalami UAN SMA… kecurangan… udah mulai ga kaget mendengarnya…

    hmmm… sampai ga kaget dan biasa saja dengan kecurangan! patologis, yes?

    natazya

    7 Mei 2008 at 00:35

  2. Kita tetap berharap ada pencerahan moral di balik pelaksanaan UN. Setiap pihak yang perduli dengan pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan UN seusai aturan. Tim Pemantau adalah salah satu pihak yang diharapkan mampu mengamati dan memberikan catatan atas pelaksanaan UN.

    Persoalan mendasar bagi Pemantau yang aku lihat adalah ketiadaberdayaannya dalam melakukan tindakan,. minimal pencegahan sampai pencatatan. Pemantau yang aku lihat saat UN berlangsung hanyalah duduk-duduk dan sesekali berjalan ke sana ke mari beberapa langkah. Tak kutemukan yang (misalnya) mengikuti siswa ke dalam wc (karena tempat ini boleh dimasuki siapa saja) untuk mengetahui apa yang dilakukan siswa atau melihat kondisi di dalamnya.

    Ada faktor yang melatarbelakangi ketidakberdataan pemantau untuk bertindak, yaitu karena kebanyakan pemantau yang ditugasi masih muda-muda (mahasiswa tahun ke-1 atau ke-2).

    Semoga ada perbaikan buat semua pihak yang terlibat UN.
    Semoga semua bisa kembali ke jalan yang benar!

    Tabik!

    fakta dilapangan justru, pemantau dari mahasiswa banyak dibenci panitia sekolah, karena terlalu kaku menerapkan aturan. selain itu mahasiswa dianggap sebagai anak bawang oleh guru2. pihak sekolah justru senang pemantau dari kalangan dosen karena lebih flexible, luwes tidak kaku.

    thank’s for your comment

    Zul ...

    7 Mei 2008 at 02:43

  3. Kecurangan dengan alasan kebaikan…
    hm… UN…memang semu

    indra1082

    7 Mei 2008 at 06:39

  4. udah sering kecurangan kek gitu..

    hanggadamai

    7 Mei 2008 at 09:31

  5. Yup, inilah relaita pendidikan kita mas, UN bagaikan buah simalakama, disatu sisi bermaksud meningkatkan standart mutu disatu sisi sangat membodohkan… dan korban2 dari UN tidak terhitung, termasuk pendidikan negara kita seakan digadaikan… ketika UN tetap berlangsung, kecurangan takkan terelakkan, ironisnya…. itulah kebijakan yang diidamkan…

    azaxs

    7 Mei 2008 at 10:35

  6. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://pendidikan.infogue.com/aku_menemukan_kecurangan_un_smp_

    asuna17

    7 Mei 2008 at 10:53


  7. Makasih.. Info Yg Menarik…

    Kalo Mau Blog, Coba Liat Situs “Leoxa.Com”
    (Themenya Keren Abiss)

    kang4roo

    7 Mei 2008 at 12:02

  8. ga kget tuh abis emang uda bnyak dari dlu sejak standarisasi nilai, knapa yaa kelulusan harus dinilai dengan angka bukan dengan seberapa banyak yang ia tahu dan seberapa jauh ia bisa menerapkan ilmunya…hehe sok bget yaa aq…oh aq mo usul coba ada ujian buat gru knapa hnya murid yang ada ujiannya, knapa guru ga dites ?? seru tuh klo guru dites

    quro

    7 Mei 2008 at 14:00

  9. Terima Kasih telah mengunjungi situs Kami.
    Kebetulan aq juga jadi pengawas Unas di salah satu SMPN di kotaku.
    Sebelum nya dari kepala sekolah udah ada arahan untuk bersikap yang wajar aja. Jd benar kalo ada kecurangan di UNAS. Pemerintah harus nya lebih perketat lagi & Tim independen jangan mau disogok.

    Rifal

    7 Mei 2008 at 16:20

  10. Pertentangan batin yang sama kita alami. Saya tidak setuju sistem UN, tapi kalau saya menemukan kecurangan pada pelaksanaannya, apa yang harus saya lakukan?

    ManusiaSuper

    7 Mei 2008 at 16:32

  11. waduh….emang susah ya…kalo gak ada ujian..gak mungkin , karena untuk melihat apakah anak2 kita sudah menguasai materi pelajarannya ya harus ada ujian…
    Kalo ujiannya di buat penuh kecurangan gini, ya sama aja bo’ong…
    yang bener adalah : anak2 kita dirumah dikasih tau bahwa kejujuran adalah yang utama, maksud ujian adalah untuk melihat sejauh mana pemahaman kita ttg materi pelajaran yang sudah diajarkan…jadi gak usah curang. Belajar aja yang bener, pasti bisa…
    kalo udah jujur masih gak bisa…ya..ortunya jgn pada marah….
    Bener gak sih….??

    rhainy

    7 Mei 2008 at 17:01

  12. cerita guru membantu siswa ini adalah cerita lama dan akan selalu ada ketika UN tetap ada. jadi caranya supaya tidak ada kecurangan di UN gimana? caranya ya tiadakan UN maka dengan sendirinya tak ada yang akan dicurangi.

    FraterTelo

    7 Mei 2008 at 17:03

  13. setiap tahun pasti begini, dan selalu begini…
    adakah yg bisa merubah sistem ini?

    aRuL

    7 Mei 2008 at 23:09

  14. padahal ada kebanggaan tersendiri kalau bisa lulus dengan usaha sendiri😦

    tapi ya.. dalih kasihan kalo si anak tidak lulus memang sungguh dahsyat.. dan memang kasian sih..

    takochan

    8 Mei 2008 at 15:22

  15. Kok gitu ya Mas…ngeri deh mending Download Soal disini trus untuk belajar

    Latip

    8 Mei 2008 at 15:53

  16. Yah, Jadi Pemantau Independent tapi tidak bisa berbuat apa-apa, tidak tegas, tidak tega atau malah mendukung kecurangan? ini buat anak bangsa bagaimana jadinya bangsa kita ini kalau dari TPI, Guru sampai politikusnya berbuat curang??? alamak bubarin aja negara ini kalau gitu tak ada yang benar, semua carut marut……. pusing dech

    @ Much. Mansur
    sekarang jadi benar dan menjadi benar butuh perjuangan. Hampir guru yang aku tanya setuju gak dengan UN, mereka jawabnya TIDAK. kata guru “saya mengajar 3 tahun kok gak dihargai, pemerintah tau apa dengan siswa saya !“. kata pakar pendidikan Prof. Dr. Arif Rahman, saya tidak setuju UN, tapi kalau UN mau diadakan, jangan pada semua sekolah, tapi pada sekolah-sekolah tertentu yang sudah siap. masalahnya bukan mendukung atau tidak mendukung kecurangan, tapi ternyata sistem UN yang membuat orang baik-baik menjadi maling karena sebuah sistem yang salah. aku tanya ke temen2ku yang punya sekolah, apa sekolah membantu siswa untuk mengerjakan soal UN. hampir semua menjawab, membantu 50%. tapi ada yang kasar ada yang halus.
    boleh juga tuh negara dibubarin, kita pindah ke negara lain atau bikin negara baru. praktis tapi kurang referensi dan emosional. mudah-mudahan kalau anda masuk sistem, tidak berubah seperti aktivis/pejuang demokrasi sekarang ini. thank’s.

    Much. Mansur

    9 Mei 2008 at 14:50

  17. Saya juga seorang guru dan merasa prihatin dengan keadaan ini, kecurangan diatas saya temukan juga (www.abi-asdad.blogspot.com). Secara tidak langsung justru sekolah-sekolah tersebut atau oknum-oknum guru itu mengumumkan bahwa mereka tidak tahu apa yang telah diajarkan atau bahkan tidak bisa mengajar. Masalahnya bukan setuju atau tidak akan keberadaan UN, karena memang UN tetap ada, tetapi justru UN bagi guru adalah sarana untuk menguji kompetensi dalam hal pengajaran di kelas atau sekolahnya, karena ternyata soal-soal UN tidak jauh dari kurikulum yang ada, bahkan ada yang standarnya justru dibawah sekali. Inilah Ujian Nasional bagi gurunya juga dengan mata pelajaran ILMU PENGAJARAN
    Terima kasih

    Asep Dadang Jamaludin

    13 Mei 2008 at 20:39


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: