Mas Anto BLOG

catatan langkah pikiran™

Back To Real World

with 6 comments


Lebaran tahun ini lebih semarak. Bisa mudik ke kampung halaman dengan lancar, bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak kerabat. Alhamdulillah, atas perlindungan-Mu, ya Allah, kami dapat kembali lagi ke pinggiran ibukota, untuk bergelut dengan urusan yang tidak pernah usai.

Lebaran lebih semarak, itu yang dirasakan. Bukan orang tua atau sanak kerabat yang menyambut kedatangan di kampung halaman, tapi wajah-wajah penuh arti menyambut sepanjang perjalanan. Wajah-wajah itu berjejer rapi di tepi jalan, dipohon-pohon, diatas jalan raya, spanduk pamflet dan tempat strategis. Wajah penuh harap, ingin dikenal dan diperhatikan, tentunya dengan imbuhan kalimat/kata penuh percaya diri. Itu bentuk eforia demokrasi negeri ini. Wajah-wajah calon pemimpin lokal atau interlokal negeri ini. Mudik tahun depan mungkin wajah-wajah tadi sudah terlena dengan jabatan dan kekuasaan dan biasanya lupa dengan ditulis di spanduk, pamflet, baliho, ……..

Kembali ke pinggiran ibukota adalah kembali ke dunia nyata. Kesibukan menanti, walau tidak sesibuk para pegawai pemda yang kucing-kucingan dengan atasannya karena telat masuk kantor atau belum balik dari mudik. Pokoknya hari pertama harus masuk, lebaran dengan rekan kerja, atasan dan tukang rokok depan kantor karena sering ngutang rokok bila tanggal tua datang. Hidup dipinggiran ibukota ternyata secara tidak sengaja terpengaruh gonjang-ganjing krisis keuangan di negeri paman sam, Amerika. Yang pasti barang-barang dengan label import pasti naik. Pemerintah sibuk dengan strategi dan jalan keluar yang tepat biar tidak terpengaruh terlalu dalam. Lumayan buat kampanye untuk 2009.

Real World. Belum tentu enak dan nyaman dirasakan. Kejam, kadang-kadang. Kehidupan ibukota yang keras dan menuntut untuk tidak sekedar berusaha. Tapi kalau berpikir bahwa kehidupan di daerah lebih ringan, itu tidak benar. Ibukota dan daerah, kalau masalah dapur ngebul tidak ada bedanya. Sama-sama sulit. Yang beda mungkin tingkat stress. Stress, diibukota dan sekitarnya lebih keras sedangkan didaerah lebih soft tapi terasa. Didaerah tingkat kepedulian lebih besar dibanding dikota besar. Tapi memperlihatkan keberhasilan selama berusaha dikota pada momen lebaran menjadi sebuah ironi. Tidak peduli dikota tidur dirumah kontrakan sempit, jungkir balik mencari rejeki, tapi kalau di kampung halaman harus terlihat sukses. Tidak peduli mobil atau motor yang dibawanya ke kampung itu kredit atau sewa yang penting kelihatan berhasil. Itu dunia nyata.

Dunia nyata, makin sulit dan keras. Efek global dan ketidakmampuan pemimpin negeri ini bisa membawa ke dalam jurang resesi atau krisis yang lebih berat dari 10 tahun yang lalu. Ya.. Allah, berilah kami kekuatan dan keikhlasan dalam menghadapinya.

Written by antokoe™

10 Oktober 2008 pada 01:05

Ditulis dalam intermezo, renungan, sosial

Tagged with , , ,

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Optimis trus Bos…..

    indra1082

    10 Oktober 2008 at 10:03

  2. ya ya.. Jakarta sudah kembali menjadi nyata.. sudah mulai macet kembali dimana-mana…

    chic

    13 Oktober 2008 at 11:14

  3. harus terus optimis loh mas…!!
    ayo semangat!!

    hanggadamai

    16 Oktober 2008 at 11:26

  4. enjoy aja mas …

    masmoemet

    24 Oktober 2008 at 09:15

  5. hahhaaa…
    iya mas.. ayo2,, back to real world…

    setelah qt liburan…
    semoga lebih fresh! ^_^

    dhedhi

    29 Oktober 2008 at 01:57

  6. susahnya jadi perantau…

    Aulia

    29 Oktober 2008 at 20:09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: