Mas Anto BLOG

catatan langkah pikiran™

Akhir Sebuah Keyakinan

with 3 comments


Semua pasti ada akhirnya. Akhir tergantung awal mula. Proses biasa memberikan sentuhan hasil akhir. Mungkin itu adalah mencerminkan perjalanan para “teroris” yang berakhir pada timah panas regu tembak.

Kenapa saya menuliskan kata teroris dengan diapit tanda apostrop (tanda petik) ?. Karena bagi sebagian masyarakat, apa yang telah dilakukan saudara kita Imam Samudera, Amrozi dan Ali Ghufron sebuah tindakan heroik dan mereka percaya itu bentuk jihad yang hakiki. Tapi bagi para korban bom atau sebagian besar masyarakat yang diam (silent majority) mereka menganggap apa yang telah dilakukan sebuah kejahatan. Hampir perhatian media dari pra ramadhan sampai minggu pertama November ini tidak lepas dari rencana eksekusi ini.

Mungkin benar bahwa kedalaman terhadap apa yang diyakini dibentuk dari sebuah kondisi yang menyertainya. Saya sebagai muslim yang lahir di sebuah lingkungan Islam yang mengedepankan nilai dibanding formalitas heran kok seorang muslim bisa bertindak seperti yang dilakukan saudara-saudara kita. Ada sebuah perjalanan yang membentuk menjadi seperti itu yang mungkin tidak pernah saya alami. Mereka pernah mengalami apa yang disebut dengan perjuangan (baca: perang) melawan sebuah tirani (baca: AS) yang memerangi saudara-saudara muslim seperti di Irak, Afganistan, Mindanao (Filipina) atau Selatan Thailand. Pahit dan kerasnya perjuangan memupuk keyakinan bahwa tirani harus diperangi dimanapun dan dalam bentuk apapun. Siapa yang menciptakan teror ? dan apa itu teroris ?. Definisi dan penjelasan akan berbeda-beda.

Tapi mengganggu ketentraman lain, menurut kebenaran umum itu sebuah tindakan tidak baik. Pernah saya mendengar seorang pintar bilang bahwa belajar apapun harus dengan ilmu, termasuk belajar agama. Tujuan dan ilmu yang digunakan juga akan memberikan hasil yang berbeda. Apakah saudara-saudara kita yang telah dieksekusi semalam salah menggunakan ilmu dalam belajar agama ?. Mungkin salah, mungkin juga benar tergantung tafsir (ilmu) apa yang dipakai. Apapun kalau sudah menjadi sebuah keyakinan, matipun lebih mulia dibanding melihat ketidakadilan.

Indonesia ternyata lebih baik dibanding negara lain seperti AS, dalam memperlakukan saudara-saudara kita yang diberi stempel teroris. Di AS yang sudah dicap teroris hak-haknya habis dicabut, tanpa disidang padahal disanalah gaung HAM dan kebebasan dilahirkan. Berlarut-larutnya eksekusi saudara-saudara kita karena (mungkin) pemerintah memberikan kesempatan kepada warganya yang bersalah untuk menggunakan semua hak-haknya semaksimal mungkin. Sangat hati-hati sekali, itu kesan yang ditangkap oleh publik dalam memutuskan waktu eksekusi. Pemerintah (baca:SBY) yakin betul ini menjadi perhatian internasional dan nilai politisnya tinggi, apalagi menjelang 2009. Tapi juga karena saudara-saudara kita ini mempunyai teman seperjuangan bahkan ada yang menjadikannya idola, sehingga pemerintah sangat berhati-hati.

Itulah sebuah keyakinan, sebuah pilihan dan mereka sangat yakin. Keyakinan seperti saudara-saudara kita ini tidak akan habis selama ketidakadilan masih ada dimuka bumi. Dan yang penting tidak perlu terjadi lagi bentuk kekerasan atas nama apapun karena Tuhan melarangnya. Pakai ilmu yang tepat untuk belajar apapun. Ayo belajar…..

Written by antokoe™

9 November 2008 pada 22:44

Ditulis dalam renungan

Tagged with , , ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kalau sudah bicara soal agama, karena kita tidak lagi hidup di jaman Nabi, memang akhirnya yang menjadi perbedaan adalah mengenai tafsir.. Karena setiap manusia berbeda penafsirannya dengan yang lain..

    Saya hanya ingin menjadi manusia yang baik..
    yang tidak menyakiti hati orang lain…

    Tapi,
    kembali lagi.. Memang Allah saja yang bisa menilai semua hal yang telah saya lakukan di dunia… Biarlah ini menjadi rahasiaNya saja..

    Thanks ya, buat renungannya..🙂

    jeunglala

    10 November 2008 at 09:58

  2. setuju dengan comment di atas..
    menjadi manusia yg baik, Insya Allah..
    karena baik itu kan juga relatif..
    baik menurut saya belum tentu baik menurut yg lain…

    penjahat cupu™

    11 November 2008 at 14:39

  3. Adalah keyakinan pada harapan yang membuat orang berjuang sampai titik darah penghabisannya.
    Tidak punya harapan, sama dengan mati.
    Tidak yakin dengan harapan, sama juga hampir mati.
    Tidak berjuang mewujudkan harapan, sama juga cari mati.
    Salam

    awaludin

    27 November 2008 at 14:17


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: