Mas Anto BLOG

catatan langkah pikiran™

Wajah Televisi Kita

with 6 comments


Ingat banget waktu dulu stasiun TV cuma ada satu di bumi Nusantara ini. Tiap program, apapun pasti ditunggu kehadirannya. TVRI sebagai stasiun TV satu-satunya, berplat merah pula, menjadi pengisi satu-satunya diruang tamu dari kota sampai pelosok desa. Waktu itu karena listrik belum masuk desa, sumber listrik untuk me-nyetel TV adalah aki (accu) yang gedenya sebesar aki truk.

Ada jadwal periodik setiap mau me-nyetrum aki. Misal ada acara TV yang ditunggu 3 hari kedepan, maka aki langsung disetrum. Berkilo-kilo ditempuh hanya me-nyetrum aki demi acara TV yang ditunggu. Itu dulu. Perubahan terjadi diakhir tahun 80-an setelah pemerintah membolehkan TV partikelir berdiri disini. Sampai dasa warsa keberadaan TV partikelir alias swasta, banyak mengubah wajah program di kotak ajaib alias TV.  Saking kemaruknya atau latah TV swasta sampai mencapai lebih dari 11 stasiun. Amerika aja kalah. Itu hanya untuk TV berlabel nasional. Sekarang jumlah stasiun TV sudah seperti jamur dimusim hujan dengan hadirnya TV swasta lokal. Makin menenggelamkan TVRI karena tidak dapat bersaing dengan TV swasta. Selain dibiayai oleh anggaran pemerintah (walau sekarang ada iklan) juga karena sering adanya konflik intern setiap ganti direksi. Mau profesional, tapi budaya lama masih melekat dan nyaris tidak ada perbaikan kualitas sumber daya manusianya.

Banyak yang sudah terkenal dan tajir berkat TV. Mulai dari rakyat jelata, aktris, aktor, anak2, abg, tua sampai ustad.  Banyak pula yang jatuh karena TV. Banyak yang pinter karena TV. TV dengan acara yang disajikan sangat kuat mempengaruhi perilaku penonton. Seorang istri membunuh dan memotong2 suami sendiri juga ‘katanya’ terinspirasi oleh Ryan si jagal dari Jombang yang diliatnya di TV. Budaya kekerasan juga katanya pengaruh dari TV. Anak-anak menjadi kreatif juga karena TV. Istri-istri terinpirasi dalam menjaga suami juga belajar dari cerita sinetron yang hampir menghiasi jam prime time TV kita.

TV sebagai alat. Hampir semua yang berhubungan dengan publisitas TV paling ampuh sebagai alat. Politikus menggunakan sebagai media untuk memenuhi ambisinya menjadi pejabat yang penuh hormat. Pemerintah menggunakan TV sebagai media untuk menyampaikan kebijakan-kebijakan baik yang bener maupun yang ngawur.

Wajah TV kita sekarang?. Kira-kira sama dan sebangun dengan kondisi moral kita. Nggak jelas. Rating menjadi tuhan baru buat TV. Rating dikejar mutu ntar dulu. Yang paling aktual adalah porsi pemberitaan eksekusi trio bom bali. Ada yang kepleset sehingga menggiring opini bahwa si obyek berita seperti ‘hero’ padahal mereka teroris. Hampir semua TV menayangkan bentrokan polisi vs mahasiswa atau mahasiswa vs mahasiswa di Makasar (heran banget mahasiswa kok mau-maunya berantem hanya karena masalah sepele atau memang ada yang sengaja main api, biasa mau 2009). Kalau dilihat sama anak-anak kita baik nggak ya???. Porsi dan pesan yang ingin sampaikan menjadi bias.

Terus fungsi KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) apa?. Sebagai pengawas atau pemantau. Baru beberapa tindakan yang telah dilakukan oleh KPI terhadap tayangan TV kita. Yang paling aktual adalah Empat Mata dengan Tukul-nya. Sebuah ironi, yang membuat Tukul dari zero to tajir yang tim kreatif. Tapi yang mengakhiri juga tim kreatif. Kasihan Tukul, tapi sudah kaya ini.

Nonton TV itu hobby. Nonton yang mana?. Ah… nunggu bang Deddy Mizwar bikin sinetron lagi…!.Maaf kacau tulisanya, sekacau acara TV kita.

Written by antokoe™

19 November 2008 pada 03:30

Ditulis dalam sinetron

Tagged with , , ,

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. TV..
    kotak ajaib dari masa depan..

    penjahat cupu™

    21 November 2008 at 12:55

  2. Mamiku suka ndangdut gara-gara TV, ketika ditanya mengapa. Jawabnya, acara TV sekarang banyakan ribut melulu! Kok bisa? La wong acaranya penuh dengan sinetron yang ceritanya rebutan pacar, rebutan harta, rebutan istri, rebutan suami, rebutan kedudukan,…

    Makanya di Indonesia ribut melulu, karena suka rebutan…

    juliach

    3 Desember 2008 at 22:06

  3. TV….TV…..TV….
    tersedia berbagai merek….
    dijual murah…..
    Tv…

    maf mas numpang dagang TV…..
    xixixixixixi…..

    Viki

    16 Desember 2008 at 18:25

  4. Saya rada heran juga dengan berita-berita utama yang disajikan oleh mayoritas tv. Yang selalu jadi headline ialah berita-berita seputar demo, bentrokan, dan hal-hal serupa yang berbau kekerasan.

    Apa gunanya coba. Bosen juga nonton berita, yang ada cuma berita demo melulu.

    iskandaria

    17 Desember 2008 at 13:24

  5. hahaah….bayangkan bila kita sekarang hidup tanpa benda kotak bergambar dan bersuara itu,,,uh….gak kebayang deh….mau kembali pake radio??? hahahaha…..

    kunjungi blogku :
    http://bantukita.blogspot.com/

    indra eka

    3 Januari 2009 at 14:27

  6. pengen taw kenapa bnyk org jahat di tipi? sktr taun 1990an pas Ram punjabi berhasil menduduki puncak tertinggi di multivision, dya setelah itu mempopulerkan sinetron, Smp skrg dah ratusan judul. sampe sekarang mash ada anak cucunya “tersanjung”. kalo bicara wajah TV qt, I think ANCUR. Para orang2 “india” itu ga taw kale kalo sebuah konflik itu tidak selalu ada orang jahat yang manjadi penyababnya.

    pengen kale ya kaya dorama2 jepang. ampir g ada orang jahatnya. semisal ada mesti msh logis.

    bim2

    5 Januari 2009 at 14:15


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: